Showing posts with label kegiatan. Show all posts
Showing posts with label kegiatan. Show all posts

Thursday, 28 June 2012

Mahasiswa dan Bisnis dalam Pekan SI Cerdas

Menyambut Dies Natalis program studi Sistem Informasi, Universitas Pembangunan Nasional ‘Veteran’ Jawa Timur, pihak program studi mengadakan acara yang mengusung tema pekan SI Cerdas atau Sistem Informasi Cerdas. Dimana program studi Sistem Informasi yang berada pada kampus di bawah naungan Departemen Pertahanan tersebut memiliki visi dan latar belakang Business Intellegence atau bisnis cerdas.

Acara yang yang dilaksanakan pada tanggal 25 – 28 Juni 2012 ini berlangsung sangat meriah. Mulai dari bazar oleh mahasiswa, workshop Internet Marketing, dan seminar IT Preneurship – Enterpreneurship. Sesuai dengan tema, semua berhubungan dengan bisnis cerdas. Tidak hanya mahasiswa dari Sistem Informasi, namun juga ada mahasiswa Teknik Informatika langsung turun tangan dalam keikutsertaan, yang berasal dari semester 2 dan 4.


Pak Nur Cahyo W, S.Kom, M.Kom
KaProgdi Sistem Informasi
Stan bazar yang terletak di depan gedung Giri Reka, Fakultas Teknologi Industri tersebut diisi oleh para mahasiswa dari kedua program studi tersebut yang mengikuti kelas Kewirausahaan dan Sistem Informasi Manajemen. Proposal Business Plan dan bisnis yang mereka jalankan pun sangat berbobot dan kreatif. Mulai dari bidang kuliner  seperti Gorengan Soerabaja, Crispy Wader, Tahu Berontak, Telur Puyuh, Rainbow Bread, Donat Imut. Sedangkan pada bidang lain seperti penerimaan pemesanan kaos karikatur, jersey, hingga kaos jebolan distro atau butik dengan brand yang tengah menjadi properti salah satu band, sebut saja Blokade. Selain itu juga ada bisnis yang bergerak dalam bidang jasa penerimaan servis komputer serta jual beli, yaitu Java Computer.

Tidak kalah dengan bazar, workshop dan seminar pun tidak mau kalah meriah. Dibandrol dengan hanya tiga puluh rupiah kita dapat mengikuti kedua kegiatan tersebut. Dengan banyak pembicara yang dapat dibilang sebagai pakar dari Internet Marketing dan para pengusaha kelas atas. Workshop mengenai bagaimana cara kita untuk mulai berbisnis dengan media online seperti blog mulai dari enol. Sangat jelas dan sama apabila kita membayar dengan biaya yang tinggi. Juga dengan seminar IT Preneurship dan Entrepreneur dengan para pengusaha dan pembicaraan yang berkualitas.

Sangat menarik dan inspiratif hingga menggugah para mahasiswa untuk terpacu dalam mengembangkan bisnis, nampak antusiasme para mahasiswa ketika sesi tanya – jawab dibuka. “Apabila saya ingin membuka bisnis dalam bidang makanan atau kuliner dengan media penjualan online seperti blog, apakah ada tips atau cara-cara tersendiri?” tanya Media, mahasiswi Sistem Informasi.

Dalam seminar yang juga penutup dari pekan SI Cerdas, panitia mengumumkan siapa saja yang menjadi pemenang daripada proposal Business Plan terbaik. Dimana jatuh pada kelompok Java Computer dan Gorengan Soerabaja.









 

Tuesday, 26 June 2012

Uniknya Anjingku

Bangun pagi dengan mata yang masih terasa berat dan badan kedinginan sudah menjadi rutinitas sehari-hari (read: Warga Baru Bawa Rutinitas Baru). Bangun pagi di saat langit masih gelap memang awalnya tidak begitu mudah apalagi hanya untuk sekedar jalan-jalan. Padahal sebenarnya jalan-jalan dengan seekor anjing (bagi yang punya) memiliki banyak manfaat. Mengenal lingkungan, tetangga sekitar, menyehatkan tubuh, karena si pemilik pun otomatis ikut berolahraga. Mengenal si anjing lebih dekat, begitupun sebaliknya, si anjing pun dapat lebih akrab dan nyaman dengan si pemilik. Kesenangan batin, merasa bahagia akibat berjalan-jalan dengan si anjing.

Hal lain yang membuat bahagia ketika mengetahui bahwa si anjing memiliki keunikan atau tingkah-tingkah yang lucu. Seperti yang dilakukan oleh Jessi, anjing saya. Yang mungkin juga dilakukan oleh anjing lain. Ketika kami berjalan-jalan, Jessi paling tidak tahan bila melihat rerumputan hijau atau lapangan hijau. Apalagi yang masih basah oleh embun. tanpa melihat keadaan, tempat, sekitar, dia pun langsung ambruk dan gulung-gulung di atas rerumputan tersebut. Dan membutuhkan waktu yang lumayan lama untuk membuatnya bangun dan kembali jalan.

Pernah suatu ketika kami berdua berada di perempatan jalan akan menyebrang, tiba-tiba Jessi langsung merebahkan badan di atas rumput basah di sekitar perempatan. Terlebih dengan jalanan yang sudah ramai oleh kendaraan. Memang sedikit merasa mali karena dilihat oleh orang-orang yang berseliweran, tapi di sisi lain tidak bisa menahan tawa karena tingkah konyol si anjing tersebut.

Esko, anjing yang lebih besar pun juga demikian. Sangat menyukai rerumputan hijau. Selain pada rumput, Esko juga sangat tertarik dengan air. Tertarik untuk tidur di lantai yang basah, atau bahkan mengganggu orang yang sedang mengepel teras hanya karena ingin bermain dengan selang dan air.







Warga Baru Bawa Rutinitas Baru

Esko dan Jessi. Kedua anakan dari anjing gembala Jerman. Dengan Esko (7 bulan) dan Jessi (4 bulan), walaupun berasal dari keluarga yang berbeda. Kedatangan mereka berdua sangat berpengaruh kepada rutinitas gaya hidup keluarga kami.

Memang sudah menjadi niatan sedari dulu untuk memelihara anjing yang sering dibilang sebagai anjingnya para polisi tersebut. Walaupun kami tengah memelihara seekor anjing lokal atau yang biasa disebut anjing 'kampung'. Panggil saja Blackqueen. Anjing hitam bertubuh mungil yang tergolong sudah tua dengan usianya yang telah menginjak 5 tahun.

Segala yang kita ambil pasti beresiko. Pengaruh oleh kedua anggota baru keluarga kami pun terasa dengan ada resiko-resiko tersebut. Memang bukan hal yang mudah untuk memelihara anjing. Terutama anjing ras. Sudah jelas perlu perawatan khusus. Contohnya peralatan. Mulai dari wilayah, kandang, sisir, tempat makan, rantai, kalung, mainan.

Esko
Contoh lain terletak pada pakan. Apalagi untuk anjing di usia yang tergolong masih sangat muda memerlukan asupan pakan khusus. Misalnya dog food dan daging atau daging ayam yang tidak mengandung tulang, atau telah digiling. Tidak lupa dengan asupan vitamin - kalsium untuk pertumbuhan tulangnya. Belum lagi masalah apabila mereka sangat susah makan. Dibutuhkan kesabaran dan keuletan dalam hal pemberian pakan apabila ingin membentuk tubuh anjing menjadi bagus dan proposional.

Jessi
Pemberian asupan gizi yang didapat dari protein pada pakan dan berbagai macam vitamin khusus untuk pembetukkan tubuh tidak akan bekerja secara optimal apabila si anjing tidak banyak bergerak atau olahraga. Mungkin anjing berolahraga dengan sendirinya apabila dilepas di sebuah halaman rumah yang sangat luas. Namun di sini Esko dan Jessi tidak memiliki tempat untuk tidur yang luas. 


Sehabis jalan-jalan, mampir ber-STMJ
Memang sudah menjadi resiko bahwa anjing seperti ini, terutama yang bertubuh besar harus banyak bergerak. Artinya ini merupakan sebuah keharusan untuk mengajak jalan-jalan kedua anjing tersebut. Sebuah rutinitas yang sangat baru, setiap hari sekitar pukul 04.30 pagi, papaku membangunkanku untuk sholat subuh dan kemudian kami mengajak Esko dan Jessi berjalan-jalan.

Begitulah beberapa rutinitas baru yang kini rutin kami lakukan. Terutama untuk saya sendiri yang sebelumnya jarang bangun pagi terutama untuk melaksanakan ibadah sholat subuh.

Friday, 27 January 2012

Seandainya ini Ujian Kesenian, bukan Statistik

Hampir satu jam telah terlewati. Tapi hanya ada soal yang saya tulis lagi dan tulisan tangan saya berisi data diri di bagian atas dari lembar jawaban yang sedang terbaring lemah di bawah kertas yang berisikan gambar karakter dari seorang gadis yang hampir selesai.

Pada pukul 8 pagi semua mahasiswa dari jurusan saya masuk ke dalam ruangan kelas. Cerita ini terjadi pada hari Selasa, 17 Januari 2012. Pada waktu ketika kami masih harus berkutat dengan ujian akhir semester tiga.

Seperti biasa, kami langsung duduk dan setiap mahasiswa dipisahkan oleh satu bangku atau kursi. Yang bermaksud supaya tidak ada satupun  mahasiswa yang dapat berbuat curang. Singkat cerita, seorang dosen yang menjaga kami langsung membagikan soal dan lembar jawaban. Nampaknya keberuntungan sedang diperuntukkan kepada kelas lain, kenapa? Karena dosen tersebut bukanlah termasuk dalam dosen yang bukan begitu baik hati untuk ukuran mahasiswa. Kami merasa bahwa beliau bahkan tidak mengedipkan matanya. Dan selalu memberikan peringatan kepada tiap mahasiswa yang tolah-toleh.

Pada kertas soal tertuliskan bahwa ujian tersebut bersifat buka buku. Dan betapa lucunya ketika saya tahu bahwa ada 4 orang termasuk saya tidak memiliki materi apapun tentang mata kuliah ini. Kemudian saya menoleh pelan-pelan ke seorang teman (@finnaagustin)duduk di belakang yang punya kopian dari materi. Akan tetapi dia hanya menggelengkan kepala dan berkata, "Nggak ada jawabannya di kertas ini." Dengan logat Jawa-nya. Kemudian saya pun kembali ke posisi.

Saya melihat keadaan sekitar dalam ruang kelas. Ibu dosen. Teman-teman saya beserta lembar jawaban mereka dan cara mereka mengerjakan ujian. Oh teman-teman saya, mereka terlihat begitu pucat dan mungkin frustasi. Dan tiba-tiba beberapa hal melintasi pikiranku, "apakah mereka dapat menyelesaikan ujian dengan baik dan lancar?". "Apakan mereka tidak belajar? Seperti saya.." Dan yang terakhir, "Semuanya, tolong aku!!"

Saya menyadari bahwa seseorang (@darma_paint) yang duduk di depan saya pintar dan canggih dalam hal hitung-menghitung. Lalu saya mengambil fotokopian teman saya dan mengalihkan pada kawan di depan. Dibaca dan agar terpecahkan sudah masalahnya. Beberapa menit kemudian aku menanyakan kembali, tapi dia hanya menggelengkan kepala dan berkata, "Aku nggak nemu caranya dari fotokopian ini." Dan aku berkata pada diri sendiri, "Bagus!"

Merasa bosan lalu saya mengambil kertas hitung-hitungan atau buram, pensil dan penghapus. Kemudian saya mulai untuk menggambar. Pada saat saya sedang menggambar tak ada rasa khawatir mengenai tes tersebut. Yang ada hanya bayangan diriku mengenakan pakaian yang sedang saya bayangkan lalu mengapresiasikannya di atas kertas.

Hampir satu jam telah terlewati. Tapi hanya ada soal yang saya tulis lagi dan tulisan tangan saya berisi data diri di bagian atas dari lembar jawaban yang sedang terbaring lemah di bawah kertas yang berisikan gambar karakter dari seorang gadis yang hampir selesai.

Satu gambar telah diselesaikan. Dan dapat dilihat latar daripada pembuatan gambar pada penjuru kertas. Dibuat di ruang 403 gedung 1 pukul 08:40. Saya berpikir bahwa hal ini belum cukup. Saya masih ingin 'menggaruk' tangan saya dengan menggambar lagi.

Saya mengambil kertas soal, membaliknya sehingga halamannya kosong. Dan berlanjut pada pembuatan gravity. Gravity sederhana. Kenapa harus sederhana? Ya, karena saya belum terlalu canggih dalam pembuatannya.

Dan, dua gambar sederhana telah selesai. Begitu pula estimasi waktu ujian yang semakin pendek. Saya melihat kedua gambar saya dan berbisik, "seandainya ini ujian kesenian, bukan statistik."



NB:
Dengan menuliskan cerita ini, saya tidak ada maksud untuk menunjukkan kelemahan dan kelebihan daripada tempat dimana saya belajar. Apalagi mengenai orang-orang yang saya sebutkan di dalamnya.

Dan saya harap tidak ada yang menanyakan akhir dari ujian statistik saya. Khususnya pada nilai yang saya dapat. Hahahaha xD

I Wished It's Art Test, Not Statistic

It's almost one hour left. But there was just an exercise I re-wrote and my hand-writing of my profile on the top of my answer sheet that laying weakly under a paper filled by a character of a girl that's almost done.

At 8:00 am all the students of my major got into the classroom. It was on Tuesday, January 17th 2012. In a moment when we still got our last examine of  the third semester.

As usually, we sat and every students were separated by one emptied chair. It means so that no one could cheat. Shortly, the lecturer who kept us gave the exercise and the answer sheet directly. It seemed that our lucks were dedicated to other class. Why? Because the lecturer was not a good one for the students. We felt that she never wink her eyes. And always gave a warn for someone who turn his/her head.

On the test paper, it was written that the test was by opened book. It was so funny when I knew that 4 people including me didn't have any material for this lesson. Then I turned my head slowly to my friend (@finnaagustin) that sat behind who had copies of the material. But she just shook her head and said, "there is no answer in the paper." Then I turned my head again and gasped.

I looked around the classroom. The lecturer. My friends and their answer sheet and the way they did the test. Oh my friends, they seemed so pale and depressed.  And suddenly some things flew away  through my minds, "do they can finish the test well and fluently?". "Don't they study last night? Like me..." And the last was, "Somebody help me!!"

I realized that the one who sat in front of me (@darma_paint) is good in counting lesson. Then I took my friend's paper and gave it to him. And he tried to read and solve. Few minutes later I asked for confirmation, but he just shook his head too and said, "I can't find a way to solve the test in this copies." And I said to my self, "Great!"

Felt bored then I took the counting paper, pencil and eraser. Then I started to draw. When I was drawing there was no worry about the test. There was just my self wearing clothes through my mind and I just appreciated it on a paper.

It's almost one hour left. But there was just an exercise I re-wrote and my hand-writing of my profile on the top of my answer sheet that laying weakly under a paper filled by a character of a girl that's almost done.
One drawing had been finished. And you can see the setting on the corner of it. It's made at room 403 1st building 08:40 am. I thought it was not enough. I still wanted to scratch my hand by drawing more.

I took my exercise paper, turned it so I could see really empty page. And it was continued by drawing gravity. Simple gravity. Why did I say it simple? Yes, because I was not good enough on it -____-

Okay, two simple pictures had been finished at all. And then the time for doing the test was getting shorter. I just looked at both of my pictures and whispered, "I wished it's art test, not statistic."



NB:
By writing this story, I never mean to show the lack or even the excess of a place where I broaden my horizon or study. Or moreover the people that I mention in this story.

And please don't ask me the ending of the my statistic test or specially for the score that I've got. Hahahaa xD

Monday, 23 January 2012

Touring: Perjalanan Kepanjen Rombongan 4x4

Siang - malam. Panas - hujan. Tanjakan - terjal. Bagaimanapun kondisi alam akan selalu kami coba untuk lintasi. Begitulah keadaan yang menggambarkan perjalanan singkat ke delapan mobil Komunitas Jeep Surabaya yang melintas Surabaya - Sidoarjo - Porong - Pasuruan Hingga Malang selatan kemarin.

Lepas dari ujian akhir semester kampus yang berjalan tanggal 9 hingga 18 Januari. Saya bersama Komunitas Jeep Surabaya mengadakan touring. Seperti yang telah dibicarakan bersama oleh teman-teman komunitas jauh-jauh hari sebelumnya.

Akhirnya touring atau jalan-jalan jatuh pada hari Sabtu-Minggu 21-22 Januari, dimana akhir pekan tersebut bertepatan dengan tanggal merah perayaan Imlek. Dan kemudian Kepanjen, Malang selatan sendiri sebagai tempat tujuan kami merupakan kampung halaman dari Bapak Sugimin, salah satu anggota komunitas.

Sabtu siang saya dan keluarga menyiapkan barang-barang beserta si Biru. CJ-7 1980 satu-satunya yang kami miliki yang jelas nantinya kami kendarai. Hingga akhirnya pukul 13.00 saya berangkat menuju daerah Wage - Sidoarjo. Di bengkel Bapak Sugimin sekaligus tempat kami semua berkumpul.

Komunitas Jeep Surabaya ini tidak dispesifikasikan untuk  usia tertentu. Tidak hanya untuk anak muda. Malahan mayoritas anggotanya dapat dikatakan bapak-bapak. Berkeluarga atau bahkan telah menjadi kakek. Yaaa dapat dibilang cocok dengan usia Jeep yang dikendarai. Hehehe.. Ada 8 mobil yang ikut serta dalam perjalanan. Dua CJ-7, CJ-5, CJ-6 Long, dan diikuti Willys.

Seperti biasa kemacetan dimulai ketika melewati jalan raya Porong. Sebagai salah satu jalan utama penghubung antar kota. Banyak Truk dan Bus besar melintas. Bertepatan dengan awan mendung yang dilanjutkan dengan hujan sangat deras. Dengan atap terpal seadanya, kami dengan senantiasa melanjutkan perjalanan walau dalam keadaan basah kuyup.

Perjalanan memang tidak sepenuhnya mulus. Beberapa kilo melewati Porong, terdapat masalah mobil yang saya tumpangi. Priono, papa saya kesulitan untuk memindahkan persneling.Terutama ketika berhenti. Apalagi keadaan macet.

Dilakukan pengecekan singkat oleh teman-teman yang memang sudah ahli di bidang tersebut. Dan ternyata si Biru hanya kehabisan minyak kopling.

Lepas dari Porong. Lanjut arah Prigen - Pasuruan, Lawang, Malang arah selatan, Kepanjen. Perjalanan kali ini memang membutuhkan waktu lebih lama. Selain karena jalanan utama yang macet mengingat tanggal merah. Antar keadaan yang harus saling tunggu, dan harus beberapa kali berhenti di SPBU atau pinggir jalan hingga akhirnya sekitar pukul 21.00 memasuki wilayah Pagak. Wilayah atau desa Gampingan, benar-benar jauh dari suasana perkotaan. Dengan lenggak-lenggok dan naik-turun jalanan yang belum teraspal dengan sempurna daerah pegunungan.

Kami disambut dengan dinginnya pegunungan. Lenyapnya sinyal Handphone. Gelapnya hutan di kanan-kiri jalan. Dan indahnya suasana malam.

Pantai Bantol: Offroad Ringan Pertama Saya










Perjalanan terus ke arah selatan. Naik - turun jalan. Tepi jurang. Sunyi dan indahnya hutan di sekeliling. Sedikit rumah penduduk. Jalanan berbatu dan tidak sedikit yang licin karena hujan. Memang bukan offroad sebenarnya tapi sudah mengoyak badan dan membuat sport jantung bagi saya. Sebagai pemula.

Cukup istirahat semalam, setelah perjalanan panjang (baca: Touring: Perjalanan Kepanjen Rombongan 4x4), paginya kami berjalan-jalan di sekitar tempat persinggahan yang benar-benar di kelilingi hutan dan sawah warga. Pagi ini jelas, sejauh mata memandang tetap hijau hutan. Sawah dan tidak sedikit yang subur oleh jagung. 

Sekitar pukul 10:00 dua orang perangkat/ pengurus desa datang ke tempat kami. Beliau memberikan sambutan selamat datang. Pengarahan akan daerah sekitar karena kami selaku tamu datang dari kota yang mungkin belum paham medan sekitar. Dan ucapan maaf karena jalanan belum teraspal. Warga di pedesaan benar-benar memberi respon sangat baik. Entah kenapa mereka selalu merendahkan diri mereka karena hanya sebagai warga desa yang kehidupannya sangat jauh berbeda dari warga kota.

Sebelum melanjutkan perjalanan, wajib hukumnya untuk melakukan pengecekan kembali pada kendaraan masing-masing.

Waktunya berangkat ke pantai. Baru beberapa meter dari rumah terdapat tanjakan. Dan masalah lagi pada si Biru, mobil saya. Bukan lagi terletak pada persneling. Tetapi mesin yang terasa mau mati. Checking singkat dan ternyata filter solar kotor karena tanki bahan bakar yang dikocak akibat jalanan yang bisa dibilang seperti naik kuda. Bersyukur ada 2 mobil di belakang. Si Biru terpaksa ditinggal dan saya sekeluarga nebeng di kedua mobil tersebut.

Perjalanan lumayan jauh. Layaknya pegunungan pada umumnya, di sini jalanan sangat menanjak, belum ada yang beraspal. Kami melewati jalan besar yang merupakan bakal menjadi sarana jalan utama yang menghubungkan antar kota. Benar-benar masih bebatuan. Badan pun serasa diayak ke kanan - kiri. Mengingat musim penghujan maka tidak sedikit jalanan yang membuat ban menjadi selip. Apalagi kalau jalanan benar-benar sudah menanjak. Mobil sudah sedikit 'ngotot' dan tetap serasa mau mundur lagi alias tidak kuat, dengan jurang di samping. Benar-benar membuat sport jantung. Dan sontak mulut berkomat-kamit membaca doa sebisanya. Padahal ini baru 0,00001% daripada offroad.

Bersyukur saya tidak sedang menaiki mobil pribadi saya. Kenapa? Karena di sini benar-benar mobil 4x4 yang bisa mengatasi dan beradaptasi dengan medan sedemikian rupa. Sementara mobil saya hanya dengan penggerak 2 roda saja. Sudah tidak bisa dibayangkan bagaimana jadinya.

Tak ada kata kapok. Semua terbayar dengan indahnya alam. Kira-kira satu setengah jam estimasi waktu yang diperlukan. Hingga akhirnya kami sampai di Pantai Bantol.

Pantai Bantol. Jujur seperti pantai milik pribadi. Ada 1 gubuk dengan persewaan tabung oksigen bila ingin menyelam. Benar-benar tak ada pengunjung kecuali kami. Tak ada biaya masuk. Tak ada biaya parkir dan lain sebagainya alias free. Tetapi benar-benar totalitas keindahan yang disuguhkan. Pasir pantai yang putih. Air laut bersih dengan enol sampah masyarakat. Bentuk bebatuan yang sangat memukau yang tak ada hentinya dihantam ombak laut.

Saya sedang asik memanjakan mata dengan pesona pantai, di atas bapak-bapak sedang sibuk mengeluarkan mobil-mobil mereka. Karena pantai berada di balik tanjakan lumayan tinggi yang harus dinaiki. Dan juga licin. 1 Willys tak sanggup menarik Willys lain, karena ban sama-sama selip. Jadinya terpaksa menggunakan TM alias tenaga manusia.

Salah satu tempat wisata baru. Wajib dicoba. Belum terjamah oleh tangan manusia. Akan tetapi kini pemerintah dalam proses memberikan fasilitas pada daerah setempat terutama untuk jalanan dan kemudahan untuk mengakses pantai.

Tak ada kata kapok, yang ada hanya rasa ingin lagi dan lagi. Kepuasan tersendiri akan tantangan yang saya rasakan dengan medan yang ada dan kepuasan akan keindahan panorama pantai yang tidak pernah ditemukan di perkotaan.

Sekilas Gallery:

x